Monday, December 30, 2013

Lowongan Kerja Bidan Di Rumah Sakit Sumber Kasih Cirebon - Jawa Barat

Karir

Saat ini dibutuhkan tenaga medis dan non medis:

Medik :
  1. dokter
  2. perawat
  3. bidan

Non medik:
  1. HRD
  2. Radiologi
  3. Kesehatan lingkungan
  4. Administrasi
  5. Gizi
  6. Staf apotek
  7. Apoteker
  8. Akunting
  9. Medical record
 
  • Alamat : Jl. Siliwangi No. 135 Cirebon, Jawa Barat
  • Telepon : (0231) 203815, 206561, 203841
  • Fax : (0231) 210040
  • Bagian informasi & pendaftaran : (0231) 203815 ext 1
  • Bagian pemasaran & Humas : (0231) 203815 ext 2
  • Web site : www.rsiasumberkasih.com
  • Email : marketing@rsiasumberkasih.com

  • Saturday, December 28, 2013

    Artikel Keperawatan / Kesehatan : Disaster Medicine atau Penanggulangan Bencana Massal

    Penanggulangan bencana / korban masal harus dilakukan secara ilmiah. Penanggulangan ini tidak cukup dengan Medical Support saja seperti penanggulangan secara ilmu bedah & ilmu kedokteran lainnya saja, tetapi harus ditunjang dengan Management Support yang baik. Ini dapat terlaksana bila kita ada persiapan / preparedness, mitigasi, latihan dan penanggulangan gawat darurat yang sehari – hari yang baik.
    Pada saat ini dikenal UTSTEIN STYLE yang merupakan THE LANGUAGE OF DISASTER. Yang merupakan structured approach to disaster research, evaluation and management of disasters. Ada beberapa istilah yang perlu kita sepakati ;
    BENCANA : suatu kejadian yang menyebabkan / menimbulkan kesusahan, kerugian dan penderitaan. KORBAN MASAL / Mass Casualties : Keadaan di mana jumlah korban melebihi kemampuan fasilitas medis yang ada. Istilah yang sekarang dipakai adalah MAJOR INCIDENT : Semua kejadian yang melibatkan manusia di mana lokasi, jumlah korban, beratnya cedera dan tipe korban memerlukan sarana kesehatan yang di luar kebiasaan. Major Incident dapat berupa : 1. NATURAL / ALAM DAN MAN MADE / ULAH MANUSIA yang melibatkan jumlah manusia (Mass Gathering) seperti pada gempa, banjir, api, Kecelakaan Lalu Lintas (KLL), olah raga, demo, Hazardeous Material (HAZMAT) / Nuklir, Biologi dan Kimia (NUBIKA) dll. 2. Simple Major Incident (infrastruktur intak), 3. Compound Major Incident (Infrastruktur rusak ), 4. Compensated Major Incident (Dapat diatasi dengan eskalasi Sistim Penanggulangan Gawat Darurat (SPGDT) sehari – hari. 5. Uncompensated Major Incident di mana sistim kolaps seperti WTC 9/11, Bom Bali Gempa & Tsunami Aceh dan Gempa Jogyakarta.
    Di INDONESIA pola penanggulangan bencana mengalami perubahan dalam 4 fase :
    I. Fase 1970 -1995, dengan apa adanya
    II. Fase 1995 – 2000, dipengaruhi oleh introduksi ATLS, SPGDT dan dibentuknya AGD 118 oleh IKABI.
    III. 2000 – 2007, dipengaruhi oleh pencanangan Konsep Safe Community dan kursus Hospital Preparedness for Emergencies & Disasters (HOPE) oleh IKABI, PERSI dan DEPKES. Selain itu Kolegium Ilmu Bedah memulai kursus – kursus Basic Skill for Surgeons (BSS), Definitive Surgery for Trauma Care (DSTC) – Damage Control Surgery (Stop Bleeding & Contamination) dan Triad of Death (Hipotermi, koagulopati, asidosis tidak terkontrol) – Compartment Syndrome dan Peri Operative Critical Care)
    IV. 2007 - .... IKABI, PERSI dan DEPKES sepakat mengembangkan Local Capacity Building untuk 33 propinsi sehingga setiap propinsi mampu YO YO 24 – 48 hrs (You are On Your Own for 24 – 48 hours) dengan meningkatkan kemampuan penanggulangan GADAR sehari – hari.
    Dalam Penanggulangan Bencana / Korban Masal, yang harus dicapai adalah Order in Chaos (IKABI). Di Aceh masalahnya adalah terlalu banyak mayat yang terlantar dan masyarakat tidak dapat sholat jumat d masjid. Sedangkan di Jogyakarta masalahnya adalah terlalu banyak pasien yang tidak dapat dilakukan triage.
    Dalam rangka mencapai Order in Chaos, IKABI telah melakukan :
    1. 1995 mengadopsi ATLS di Indonesia
    2. 1997 mencanangkan SPGDT sebagai suatu sistim yang dapat dilaksanakan di Indonesia dengan kata kunci TERPADU, yaitu memanfaatkan apa yang ada.
    3. 2000 mencanangkan Safe Community bersama Depkes di Makassar, di mana kita harus dapat menjamin di manapun kita berada, kita aman.
    4. 2003 IKABI mulai mengadakan kursus HOPE bekerjasama dengan PERSI & Depkes. Kursus HOPE merupakan gabungan dari MIMMS, HEICS dan SPGDT. Kursus ini disusun bersama oleh anggota IKABI dari Indonesia, Pilipina, India dan Nepal dengan sponsor dari USAID. Dalam HOPE ditekankan pada masalah Risk Assessment & Risk Managenent, Structural Collapse & Functional Collapse dari Rumah Sakit (RS), Management Support & Medical Support, Command & Control terutama Horizontal Control antara Security (Polisi), Rescue (Dinas Kebakaran) dan AGD 118. Dengan tujuan akhir : The Right Patient To The Right Hospital By The Right Ambulance At The Right Time.
    Masalah GADAR dan penanggulangan bencana, tidak mungkin dapat diselesaikan oleh IKABI sendiri. Karena itu diadakan kerjasama dengan PERSI, DEPKES dan instansi lain yang terkait. IKABI, PERSI dan DEPKES sepaham bahwa :
    1. Tidak mungkin kita dapat menanggulangi bencana / korban masal dengan baik , bila penanggulangan GADAR kita sehari – hari buruk. Dan penanggulangan GADAR sehari – hari kita memang tidak memadai.
    2. Jumlah sarana kesehatan di Indonesia berupa Rumah Sakit / UGD, Puskesmas / UGD dan Ambulans jumlahnya memadai dibanding dengan jumlah penduduknya, tetapi tidak terkoordinasi dan tidak terlatih.
    3. Organisasi Profesi Kedokteran seperti IKABI mempunyai kursus – kursus Post Graduate yang berstandar internasional.
    4. SPGDT, AGD / AGDT / BLUD 118 dan Safe Community dapat kita capai dengan melatih orang awam (BLS), polisi, dinas kebakaran (MFR & CSSR), paramedik AGD 118, Emergency Nurse (BTLS, BCLS, BNLS, BPLS & Disaster Management), Emergency Physician (ATLS, ACLS, ANLS, APLS & Disaster Management), Trauma Surgeon / Konsultan Trauma (ATLS, BSS, DSTC, Peri Op CC & Disaster Management) dan Manajemen RS (HOPE) dengan kursus – kursus tersebut.
    5. Setiap Kota, Kabupaten dan Propinsi harus mampu menanggulangi Bencana / Korban Masal secara mandiri (YO YO 24 – 48 Hrs, You are on Your Own for 24 – 48 hrs) dengan meningkatkan kemampuan penanggulangan GADAR sehari – hari.
    6. Direktur RS adalah Agent of Change dalam mengembangkan Safe Community dan YO YO 24 – 48 hrs, karena IKABI telah melatih lebih dari 15.000 dokter dalam ATLS, PERKI lebih 8.000 dokter dalam ACLS dan Yayasan AGD 118 lbih dari 10.000 perawat dalam BTCLS, tetapi tidak terjadi perubahan yang signifikan karena pemilik UGD & Ambulans adalah direktur RS.
    Disaster Medicine merupakan gabungan dari Ilmu Bedah – Ilmu Kedokteran lainnya dan Ilmu manajemen.
    Pada Language of Disaster dari Utstein Style menggambarkan masalah yang dihadi dari adanya Hazard samapai terjadinya bencana / korban masal. Disini tampak bahwa kita dapat melakukan penelitian, evaluasi dan penanggulangan bencana yang terstruktur. Selain itu juga tampak bagai mana mencegah, memodifikasi dampaknya dari segi manajemen maupun dari segi ilmu bedah / kedokteran.
    Hazard dapat diubah sedemikian rupa sehingga tidak terjadi event (kejadian). Dan event (kejadian) meskipun terjadi dapat dicegah terjadinya damage (kerusakan) bila absorbing capacity (kemampuan menahan) nya dapat ditingkatkan. Sedangkan damage (kerusakan) dapat dicegah menjadi disaster (bencana) bila buffering capacity (kemampuan menyagga / menahan) nya ditingkatkan. Demikian juga dengan local response (respons SPGDT – AGD / AGDT /BLUD 118) berfungsi dengan baik pada fase pra RS maupun fase RS / UGD (YO YO 24 – 46 hrs). Dan bila tidak mampu, bantuan dari luar dapat berfungsi dengan baik / tidak.
    Jadi dalam penanggulangan bencana / korban masal yang penting adalah Resilience (ketahanan – kemampuan bertahan) yang merupakan Absorbing Capacity, Buffering Capacity & Local – Outside Response. Mengembangkan Resilience dari suatu Kota, Kabupaten dan Propinsi bahkan suatu RS di Indonesia dapat dilakukan dengan mengembangkan Safe Community, SPGDT dan AGD / AGDT / BLUD 118dengan Disaster Plan nya masing - masing. Dengan demikian dalam GADAR sehari – hari maupun bencana / korban masal setiap kota, kabupaten dan propinsi akan siap menanggulangi sendiri.
    Dalam penanggulangan bencana / korban masal selalu ada masalah manajemen dan masalah medik. Masalah manajen diselesaikan dengan Management Support. Management Support sebaiknya dipimpin oleh seorang Incident Commander yang menguasai ilmu manajemen bencana maupun ilmu bedah / kedokteran GADAR & bencana / korban masal. Incident Commander dibantu oleh :
    Bagian Operasional yang melaksanakan penanggulangan bencana / korban masal dari segi Security, Rescue, Medik (AGD 118, RS Lapangan dan fase RS) dan Identifikasi yang meninggal.
    1. Bagian Logistik yang menujang kebutuhan Bagian Operasional dalam bidang Security, Rescue, Medik (Alkes, SDM, Air Minum, Makanan, Listrik, Komunikasi dll).
    2. Bagian Keuangan yang menunjang kebutuhan Bagian Logistik.
    3. Bagian Planning (Perencanaan) yang dalam keadaan sehari – hari membuat Disaster Plan, Sosialisasi, Latihan. Dalam keadaan bencana / korban masal, bagian ini melakukan data collection, data analysis, yang diperlukan Incident Commander untuk mengambil keputusan dan dilanjutkan dengan evaluasi. Data yang dikoleksi adalah :
      1. Jumlah pasien,
      2. Laki – laki, wanita, anak / umur
      3. Jenis cedera, tindakannya & angka infeksi
      4. Penyakit menular & jenisnya
      5. Pasien dirujuk, kemana
      6. Meninggal, sebab kematian dan dimana meninggalnya
      7. Identifikasi yang meninggal
    Tindakan Bedah / Kedokteran yang dilakukan adalah sesuai dengan yang kita pelajari dari :
    1. ATLS è A, B, C, D, E & Traige
    2. BSS è Jahit menjahit, debridemen & fiksasi eksternal
    3. DSTC è Damage Control Surgery (Stop Bleeding & Stop Contamination),Triad of Death (hipotermi, koagulopati dan asidosis yang tdak terkontrol) & Compartment Syndrome.
    4. Peri Operative Critical Care è Total Care

    Refference :
    1. Pusponegoro A.D. Grand Design Penanggulangan Bencana. Editor : Pusponegoro A.D, Paturusi I. Proceedings Konferensi Penanggulangan Bencana. Bandung : Depkes. 2007 : 1-12
    2. Sundnes K.O, Birnbaum M.L, Fisher J.M. Pre Conference Workshop 8th Asia Pacific Disaster Medicine Conference. Editor : Yamamoto Y. Proceedings 8th Asia Pacific Disaster Medicine Conference. Tokyo : Asia Pacific Disaster medicine. 20th November 2006 : 1- 18
    3. Pusponegoro Ad, Boen T, Herbosa T, Shresta R. Hospital preparedness For Emergencies and Disasters (HOPE). Jakarta : IKABI, 2000
    4. Skinner I. Basic Surgical Skill Manual. Sydney : McGraw Hill, 2000
    5. Advanced Trauma Life Support (ATLS) for Doctors. 7th Edition. Chicago : American College of Surgeons, 2004.
    6. Definitive Surgery for Trauma Care (DSTC). Ed. Surarso, Pusponegoro A.D. Jakarta : Kolegium Ilmu Bedah Indonesia, 2000.
    7. Peri Operative Critical Care. Ed. Surarso, Pusponegoro A.D. Jakarta : Kolegium Ilmu Bedah Indonesia,2003.

    Artikel Keperawatan dan Kesehatan : Konteks Pemberian Asuhan Keperawatan Secara Islami

    Disajikan pada Seminar Al Qur’an, Sains Kedokteran dan Fiqih Keperawatan Pusat Studi Al Qur’an (PSQ) Jakarta.
    MUQADDIMAH
    Bukanlah menghadapkan wajahmu ke-arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah barang siapa beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musyafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta ; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan sholat dan mengeluarkan zakat; dan orang-orang yang menepati janji apabila berjanji dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan (sakit) dan dalam peperangan (perjuangan). Mereka itulah orang-orang yang bertaqwa. (Q.S. Albaqarah (2):177).
    Ayat tersebut diatas merupakan motivasi utama Kelompok kerja keperawatan Islam dalam mengembangkan perawatan professional Islam , upaya tersebut adalah sebuah tanggung jawab moral ummat muslim dalam menegakkan Islam dalam semua bidang kehidupan termasuk bidang kesehatan, juga dalam rangka menegakkan da’wah amar ma’ruf nahi munkar.
    Kebangkitan dakwah Islam di Indonesia pada akhir-akhir ini menjadi fenomena yang menarik untuk dibahas dan tampaknya semakin hari semakin marak. Hal itu dapat dilihat dengan banyakya kajian-kajian untuk mencari atau menghidupkan kembali nilai-nilai Islam dalam semua bidang kehidupan : sosial, ekonomi, politik, hukum, budaya, kesehatan termasuk keperawatan yang merupakan bagian integral dibidang kesehatan.
    Sebagai anggota komunitas profesi perawat Kelompok kerja keperawatan Islam merasa terpanggil untuk megembangkan keperawatan Islam di Indonesia, hal ini didasari pada keyakinan bahwa ummat Islam di negeri ini harus mendapatkan pelayanan/asuhan keperawatan berqualitas sesuai dengan keimanannya sebagai seorang muslim sehingga mendapatkan kepuasan, Kepuasan ummat akan dapat dicapai apabila pelayanan/asuhan yang diterimanya dapat menyentuh fitrahnya sebagai manusia. Nilai-nilai Islam secara universal sangat tepat di Integrasikan dalam asuhan keperawatan agar dapat memperhatikan fitrah manusia dalam hal ini klien sebagai penerima asuhan melalui pengembangan asuhan keperawatan yang Islami yang merupkan inti dari Keperawatan Islam.
    Keperawatan Islam digali nilai-nilai agama Islam dalam keperawatan dari sumber yang merupakan keyakinan umat Islam yaitu Alqur’an dan Hadist. Karena nilai-nilai Islam adalah universal maka untuk dapat mengembangkan Keperawatan yang Islami harus dimulai pada tataran falsafah atau keyakinan yang paling tinggi dalam profesi keperawatan yaitu “Paradigma Keperawatan Islam”.
    Paradigma Keperawatan Islam adalah fenomena sentral atau cara pandang profesi keperawatan yang mendasari profesi keperawatan, maka Paradigma Keperawatan Islam adalah sebagai acuan seluruh komunitas Keperawatan Islam di Indonesia baik dalam pelayanan kesehatan maupun dalam penyelenggaraan pendidikan keperawatan Islam.
    PARADIGMA KEPERAWATAN ISLAM
    Paradigma keperawatan Islam adalah cara pandang, persepsi, keyakinan, nilai-nilai dan konsep-konsep dalam menyelenggarakan profesi keperawatan yang melaksanakan sepenuhnya prinsip dan ajaran Islam. Paradigma keperawatan Islam dibangun melalui empat komponen besar yaitu : Manusia dan kemanusiaan, lingkungan, sehat dan kesehatan serta keperawatan.
    1. MANUSIA DAN KEMANUSIAAN
    Dasar Firman Allah: [QS. At-Tiin : 4] [QS. Shaad : 72] [QS. Al-Hijr : 29] [QS : Al-Israa’ : 70] [QS : Al-Israa’ : 73-74]
    Manusia adalah mahluk ciptaan Allah yang terbaik bentuknya yang dimuliakan Allah, terdiri atas jasad, ruh, dan psikologis, dimana seluruh mahluk lainnya yang berada di langit dan dibumi ditundukan oleh Allah kepada manusia kecuali Iblis yang menyombongkan diri. Manusia di dalam Alquran diistilahkan antara lain dengan sebutan Al-Basyar Allah menjelaskan dalam ayat-ayat :[QS. Shaad : 71] [ QS Al-Anbiyaa : 8 ] [ QS. Al-Mulk : 14 ] makna Al-Basyar adalah gambaran manusia yang diciptakan dari tanah dan secara materi, yang dapat dilihat, memakan sesuatu, mendengar, berjalan, dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. An-Nas[ QS. Al-Hujurat : 13 ] Makna An-Naas dalam Al-qur’an mengindikasikan bahwa manusia adalah mahluk sosial.

    Komponen Manusia

    Manusia sebagai salah satu mahluk ciptaan Allah terdiri atas beberapa komponen yang meliputi jasad (fisik ), ruh, dan nafs (jiwa).
    Jasad (Fisik): [ QS. At-Tiin : 4 ], [ QS. Al-Anbiyaa : 8 ],[ QS. Al-Anbiya : 2] Komponen fisik adalah komponen jasad/bentuk, yang dapat makan dan minum, berjalan, mendengar, melihat, dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya seperti yang dijelaskan oleh beberapa ayat dalam Al-quran.
    Ruh Allah berfirman dalam Al-Quran [ QS. Shaad (38) : 72 ]
    “Maka apabila telah kusempurnakan kejadiannya (manusia) dan kutiupkan kepadanya ruh (ciptaan)-Ku; maka hendalah kamu (malaikat, jin dan iblis) tunduk dengan bersujud.”
    Nafs (Jiwa) Allah berfirman dalam Al-Quran :
    “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat
    Allah, ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram .”[QS. Ar-Ra’d : 28 ]

    Manusia juga dapat diterangkan dalam siklus kehidupannya melalui proses reproduksi hingga regenerasi, yang meliputi fase : Pernikahan [Q.S Ar-Ruum:21], [Q.S. An-Nisaa’: 22-24], Kehamilan [Q.S. Al-Hajj : 5], Kelahiran, Nifas, Tumbuh kembang [Q.S. Luqman: 14], [Q.S. Al-Baqarah: 233], Kematian [Q.S Ali Imran : 185],
    Berdasar peran dan fungsi manusia diyakini sebagai khalifah dan hamba Allah, sebagai khalifah Allah di bumi, manusia diberi tugas untuk melaksanakan fungsi kemanusiaan dianataranya :
    (1) Memimpin dan mengatur bumi berdasarkan petunjuk dan peraturan Allah[Q.S Al-Baqarah: 30] , [Q.S. Al-Ahzab:72].
    (2) Memakmurkan bumi dan mengeluarkan potensi yang terkandung di dalamnya untuk kesejahteraan umat manusia berdasarkan petunjuk dan peraturan Allah [Q.S Huud : 61].
    (3) Menyebarkan keadilan dan kemaslahatan [ QS. Al-Hadiid (57): 25 ], [ QS. Shaad (38) :26 ], [ QS. Al-Qasas (28): 77 ]
    Sebagai hamba Allah yang diberi beban untuk beribadah kepada Allah semata, yakni ibadah yang mencakup seluruh aspek kehidupan, sebagai mana firman Allah :
    “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-KU.” [ QS. Adz-Dzariat (51) : 56 ].
    Dari uraian diatas tentang manusia sebagai khalifah dan hamba Allah, maka manusia dalam aspek keperawatan dapat ditinjau dari dua sudut pandang yaitu manusia sebagai perawat dan manusia sebagai klien. Manusia sebagai perawat adalah mahluk ciptaan Allah yang paling mulia dan sempurna (terdiri dari jasad, ruh dan nafs) dan memiliki iman , ilmu dan mempunyai kewajiban untuk mengamalkannya bagi kemaslahatan umat. Manusia sebagai klien yang menjadi fokus pelayanan keperawatan pada dasarnya adalah makhluk yang berpotensi secara aktif menjadikan dirinya sebagai manusia yang sempurna, sebagaimana firman Allah :

    “Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah suatu nikmat yang telah di anugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri dan sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha mengetahui.” [ QS. Al-Anfal (8) : 53 ].

    2. LINGKUNGAN
    Dasar ayat-ayat yang menjelaskan tentang lingkungan: [ QS. Al-Baqarah (2) : 164 ]
    [QS. Al-Jaatsiyah (45) ; ayat 3, 4, 5, 6, 7 ], [ QS. Al-A`raf (7), ayat 54 ].
    Allah menjelaskan kepada kita bahwa alam semesta dan seisinya di ciptakan atas hak dan kehendak Allah SWT dan di peruntukkan bagi manusia agar manusia bersyukur serta dapat mempelajari alam semesta ini guna memperkokoh keimanan dan ketaqwaan terhadap sang Maha Khaliq (Pencipta). Dan Allah juga mengancam manusia yang berdusta dan berdosa.
    Betapa Allah telah menunjukkan kepada manusia terjadinya siklus cuaca dan bagaimana hujan itu diturunkan kebumi dan bagaimana tumbuhan hidup yang tiada ain agar manusia dapat menggali dan mempelajari makna ayat-ayat Allah dapat kita simak pada [ QS. Al-A`raf (7) ; ayat 57 ] [ QS. Al-A`raf (7); ayat 58 ].
    Melalui ayat-ayatNy [ QS Albaqarah (2) : 60 ] [ QS Al-Baqarah : 11 ] [ QS Al-A’raaf : 56 ] [ QS. Muhammad (47) : 22-23 ] [ QS Al-Ankabut (29) : 36-37 ] Allah menegaskan baik buruknya kwalitas lingkungan akan berpulang kepada manusia yang mendiami muka bumi ini dan kemudian memanfaatkannya. Apabila manusia mampu memelihara lingkungan dengan baik maka akan baiklah kehidupan ini, begitupula sebaliknya jika manusia merusaknya maka malapetakalah yang akan menimpanya, seperti : bencana banjir, wabah penyakit-penyakit menular, polusi udara, dll.
    Unsur lingkungan di bagi dalam lingkungan internal dan lingkungan eksternal. Lingkungan internal meliputi genetika [QS. An-Nisa : 19]., struktur fungsi tubuh“Tiap jasad yang tumbuh dari yang haram maka neraka lebih utama bagunya.” (HR. Tirmidzi), psikologis [ QS : Al-Israa’ : 73-74 ]
    dan internal spiritual[QS.Asy-Syams : 9-10], [QS. An-Nisa : 48-50] Sedangkan lingkungan eksternal adalah lingkungan disekitar manusia baik fisik [QS. Al-A`raf (7) ; ayat 57], [QS. Al-Anfal (8) : 11], biologis, [QS. Al-Jaatsiyah (45) ; ayat 3, 4, 5, 6, 7 ] [QS. At-Taubah :108], sosial [QS. An-Nisa (4) : 1] [QS. Al-Hujarat (49) : 13] [QS. Al-Hujarat (49):10], dan spiritual [QS. Al-Baqarah (2) : 222], “Kebersihan itu adalah separuh dari iman.” (Hadits riwayat Muslim) “Terangilah rumahmu dengan shalat dan membaca Al-Qur`an.” (Al-Hadits)
    Lingkungan internal dan eksternal akan mempengaruhi sikap dan perilaku manusia termasuk persepsinya terhadap sehat-sakit. Manusia sebagai mahluk sosial mempunyai hubungan yang dinamis dengan lingkunganya serta tidak dapat dipisahkan dari lingkungannya tersebut. Tindakan kebersihan lingkungan (baik internal maupun eksternal ) adalah merupakan tindakan spiritual dan melestarikan kehidupan yang sehat dan nyaman. Kebersihan merupakan syarat bagi terwujudnya kesehatan, dan sehat adalah salah satu faktor yang dapat memberikan kebahagiaan. Sebaliknya kotor tidak saja merusak keindahan tetapi juga dapat menimbulkan berbagai penyakit dan sakit merupakan salah satu faktor yang mengakibatkan penderitaan.
    Kebersihan harus diupayakan oleh manusia untuk memelihara diri dan lingkungannya dalam rangka mewujudkan suatu kehidupan yang bahagia dan sejahtera baik di dunia maupun di akhirat, memelihara lingkungan baik internal maupun eksternal harus diupayakan untuk menciptakan nuansa yang Islami (spiritual) sebagai bagian dari perintah Allah SWT.
    Dengan demikian jelaslah bahwa Islam memandang lingkungan sebagai sesuatu rahmat yang diperuntukkan bagi manusia yang harus senantiasa dijaga, dipelihara dan dilestarikan untuk kemakmuran dan kesejahteraan manusia baik individu , kelompok dan masyarakat sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.

    3. SEHAT DAN KESEHATAN
    Ya Allah , ya Tuhan kami berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Serta peliharalah kami dari siksa api neraka” [Al-Baqarah (2) :201].
    Islam mendorong ummat manusia yang beriman untuk mencapai sesuatu yang baik bagi mereka didunia dan di akhirat. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan ilmu dan amal saleh dan sebagai prasyarat yang harus dimiliki adalah sehat /kesehatan.
    Sehat dan kesehatan dalam perspektif Islam
    “Ingatlah , hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram” [QS. Ar-Rad :28].
    “ Barang siapa sehat badannya, damai dihatinya dan punya makanan untuk sehari-harinya, maka seolah-olah dunia seisinya dianugerahkan kepadanya”. (Hadist riwayat At-Turmudzy dan Ibnu Majah)
    Berpedoman pada hadist tersebut diatas maka sehat bukan hanya bebas dari rasa sakit dan cacat belaka. Sehat berabstraksi jauh lebih dalam lagi, yaitu berada dalam keadaan sejahtera, penuh rasa syukur atas nikmat Allah dalam aspek jasmani, rohani dan sosial.
    Manusia yang sehat adalah manusia yang sejahtera dan seimbang secara berlanjut dan penuh daya mampu. Dengan kemampuannya itu ia dapat menumbuhkan dan mengembangkan kualitas hidupnya seoptimal mungkin. Ia memiliki kesempatan yang lebih luas untuk memfungsikan dirinya sebaik mungkin untuk beramal sholeh dan beribadat serta menjadi rahmat bagi lingkungannya.
    Upaya Kesehatan
    Dalam Al-Qur`an maupun hadist, telah diperingatkan akan pentingnya memperhatikan kesehatan baik dalam konteks upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.
    Beberapa dalil sebagi landasan upaya kesehatan adalah :
    (1) Upaya promotif (QS: Al-Baqarah (2): 95 ).
    “Ada dua kenikmatan yang sering dilalaikan orang, yaitu sehat dan waktu senggang”.
    ( HR. Bukhori dan Muslim )
    Berdasarkan dalil tersebut di atas maka manusia dilarang merusak diri baik jasmani maupun rohani, dalam arti manusia wajib memelihara kesehatan dan meningkatkannya.. Dan uraian hadist tersebut dapat dipahami, janganlah kita mengabaikan kesehatan dan waktu senggang.
    (2) Upaya Preventif [QS. At-Tahrim (66):6 ]

    Berkaitan dengan upaya preventif dalam Al-Quran dan Al-Hadist dijelaskan sebagai berikut. “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka.......”

    “Perhatikanlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara, yaitu :1. Masa hidupmu sebelum datang ajalmu, 2. Masa sehatmu sebelum datangnya sakit. 3. Masa lapangmu sebelum datangnya sempitmu, 4. Masa mudamu sebelum datangnya masa tua dan 5. Masa kayamu sebelum datangnya miskin.” (HR. Ahmad dan Baihaqi).
    “Jika kamu mendengar berita ada wabah penyakit disuatu daerah, maka janganlah memasuki daerah itu. Dan jika kamu berada didalamnya, janganlah kamu keluar dari daerah itu.” (Al Hadits)
    (3) Upaya kuratif[QS. Asy-Syuara (42) : 80 ]
    “Berobatlah kamu wahai manusia, karena sesungguhnya Allah tidak menurunkan suatu penyakit tanpa menurunkan obatnya, kecuali penyakit tua (mati)” (HR. Ashabus Sunan)
    (4) Upaya rehabilitatif [ QS. Ar-Ra`du (13) :11]
    “Berbuatlah untuk bekal duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya-lamanya dan beramllah untuk bekal akheratmu seakan-akan engkau mati besok pagi.” (Al Hadist)
    “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada wajahmu dan hartamu, tetapi ia melihat hatimu dan amalmu”. (Al Hadist)
    Dapat disimpulkan bahwa manusia harus memelihara keseimbangan antara kehidupan duniawi dan ukhrowi , antara jasmani dan rohani serta perlu adanya usaha pemulihan yang didasari niat yang sungguh-sungguh dan bekerja keras.
    4. KEPERAWATAN
    “Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil :”Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Karena itu jadilah dia orang diantara orang-orang yang menyesal.” [QS. Al-Maidah (5): 31]
    Dan orang-orang yang beriman , lelaki dan perempuan , sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma`ruf , mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya . Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah ; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [QS. At-Taubah (9) : 71]

    Dan ingatlah hamba-hamba kami : Ibrahim, Ishaq dan Ya`qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi.” [ QS. Shaad (38):ayat 45]

    “ Dan (ingatlah kisah) Ayub , ketika ia menyeru Tuhannya : “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang diantara semua penyayang.” [QS. Al-Anbiyaa (21): 83]

    Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhannya: “Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan.” [QS. Shaad (38): 41]

    “ Dan ambilah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) orang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-Nya .” [ QS. Shaad (38): 44 ]
    “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”. [QS Ali Imran (3) : 4].
    “Barang siapa yang berkeinginan untuk diselamatkan oleh Allah dari bencana pada hari kiamat, maka bantulah orang yang dalam kesulitan atau hindarkan kesulitannya.” (HR. Muslim).
    Keperawatan dalam Islam diyakini sejak tegaknya Islam
    Zaman Nabi Adam, A.S
    Sebagaimana dalam Al qur’an Allah berfirman :
    Dari firman Allah tersebut dapat disimpulkan bahwa terjadi awal mulanya konsep perawatan jenazah. [ QS. Al Maidah (6) : 31]
    Zaman Nabi Ayub AS
    Ketika nabi Ayub terkena penyakit kulit, istrinya bernama Siti Rahmah selalu merawat suaminya siang dan malam, untuk memenuhi kebutuhan nutrisi nabi ayub AS Siti Rahmah menukar gulungan rambut dengan empat potong roti. Setelah itu Siti Rahmah berkata : wahai Tuhanku sesungguhnya perlakuanku ini hanya karena taatku kepada suamiku dan untuk memberikan makan kepada nabi-Mu, maka telah saya jual gulungan rambutku. Nabi Ayub berdoa kepada Allah agar penyakitnya di berikan kesembuhan. Firman Allah : [QS. Shaad (38) : 41].
    Zaman Nabi Isa as
    "( Ingatlah, ketika Allah menyatakan : " Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada Ibumu diwaktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul Qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia diwaktu masih dalam buaian dan sesuadah dewasa; dan ( ingatlah ) diwaktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan ( Ingatlah pula ) diwaktu kamu membentuk dari tanah ( suatu bentuk ) yang berupa burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniup padanya, lalu bentuk itu menjadi burung ( yang sebenarnya ) dengan se izin-Ku. Dan ( ingatlah ) waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan ( ingatlah) diwaktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur ( menjadi hidup ) dengan seizin-Ku, dan ( ingatlah ) diwaktu Aku menghalangi bani Israil ( dari keinmginan mereka membunuh kamu ) dikala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir diantara mereka berkata: " Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata " [QS. Al-Maidah (5) : 110]
    Zaman nabi Muhammad SAW
    Pada saat nabi Muhammad SAW menyiarkan agama Allah, banyak kaum wanita menarik suami untuk ikut berjuang dan berperang dan para wanita tersebut mengikuti perjalanan, selama perjalanan mereka tekun dalam memberikan pertolongan serta pengobatan kepada pasukan yang terkena luka dan sakit dalam peperangan. Adapun wanita yang berbai’at kepada Rasullah adalah :
    Rubiyi binti Mu’awidz
    Rubiyi adalah seorang sahabat wanita yang ikut serta meriwayatkan hadist dari Rasullah . Peran Rubiyi dalam peperangan dapat diketahui dari riwayat Imam Bukhori, Nasai dan abu Muslim Al Kajji yaitu bertugas memberi minum kepada mereka yang berperang, melayani mereka, mengobati yang terluka,serta membawa orang-orang yang gugur ke madinah
    Umu Sinan Al-Aslamiyah
    Umu Sinan adalah seorang mujahid wanita yang agung ia datang kepada Rasulullah ketika beliau hendak keluar ke Khaibar, lalu ia berkata : “ ya Rasulullah, bolehkah aku ikut keluar bersamamu dalam perjalanan mu ini ? Aku akan menuangkan air minum dan mengobati orang yang sakit dan terluka, Rasulullah mengizinkan umu sinan ikut serta dalam penaklukan khaibar “( Al-Wagidi dalam Al Maghazi : 687, dan At Thabaqat 8 : 214 )
    Umu Ziyad Al Asyja-iyah
    Umu Ziyad Al Asyjaiyah seorang, pejuang wanita yang tangguh, umu tersebut dengan izin rasulullah ikut dalam penaklukan khaibar, bertugas untuk mengobati orang-orang yang terluka, menyiapkan makan dan minum.
    Ku’aibah binti Sa’ad
    Adalah seorang wanita yang cerdas, aktifitasnya tidak terbatas perannya pada waktu perang, bahkan ia mengobati orang yang sakit pada saat kapan saja, ia telah dibuatkan ruang khusus di masjid untuk mengobati orang-orang yang sakit atau terluka (Thabaqat ibnu Sa’ad 8 : 213). Ku’aibah sebagai orang yang merintis jalan dalam dunia pengobatan dan kedokteran yang diberi gelas tokoh dan pakar medis
    Umayah binti Qais Al Ghifariyah
    Umayah bersama kelompok wanita bani Ghifar datang kepada rasulullah : ingin ikut berperang bersama ke khaibar, kami ingin mengobati orang-orang yang terluka dan membantu kaum muslimin sesuai dengan bidang dan kemampuan kami
    Rufaidah Al-Anshariyah
    Seorang wanita dari kabilah Asdam yang biasa mengobati orang-orang terluka yang tidak memiliki perawat ia mengobati orang-orang terluka di kemahnya, di sebagian ruang masjid nabawi.
    Dalam kitab kumpulan syair Al-Ilyadzah Al islamiyah, penyair Ahmad Muharram menulis tentang Rufaidah :
    “Wahai Rufaidah, ajarkanlah kasih sayang kepada manusia dan tambahkan ketinggian harkat kaummu, ambillah orang yang terluka, dan sayangilah, berkelilinglah di sekitarnya dari waktu ke waktu bila orang-orang tidur mendengkur maka janganlah engkau tidur demi mendengar rintihan orang yang sakit
    Bumi terus berputar, tahun pun silih berganti, namun kemah Rufaidah di Masjid Nabawi tetap menjadi contoh yang harum dalam pelayanan kesehatan pada permulaan Islam.
    Dari risalah tersebut diatas menunjukkan bahwa Islam telah mengajarkan tentang keperawatan yang memberikan pelayanan komprehensip baik bio-psiko-sosio-kultural maupun spiritual yang ditujukan kepada individu maupun masyarakat. Pelayanan keperawatan berupa bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan.
    Keperawatan dalam Islam merupakan manifestasi dari fungsi manusia sebagai khalifah dan hamba Allah dalam melaksanakan kemanusiaanya, menolong manusia lain yang mempunyai masalah kesehatan dan memenuhi kebutuhan dasarnya baik aktual maupun potensial . Permasalahan klien dengan segala keunikannya tersebut harus dihadapi dengan pendekatan silaturrahmi (interpersonal) dengan sebaik-baiknya didasari dengan iman, ilmu dan amal serta memiliki kemampuan berdakwah amar ma’ruf nahi munkar.

    ASUHAN KEPERAWATAN ISLAMI

    Allah berfirman :
    “Dan orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebgaian yang lain. Mereka menyeruruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah yang munkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan RasulNya”. (Q.S. At-Taubah :71)
    “…Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran, dan bertawalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah maha berat siksa-Nya”.
    (Q.S. Al-Maa-idah: 2) .
    “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri”. ( Q.S. Al-Israa’:7)
    “…dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu…” (Q.S. Al-Qashash: 77)
    “Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu…” (Q.S. Ali Imran:159)
    Barang siapa yang berkeinginan untuk diselamatkan oleh Allah dari bencana pada hari kiamat, maka bantulah orang yang dalam kesulitan/hindarkan kesulitannya (HR. Muslim).
    Tiada beriman seorang dari kamu sehingga dia menyukai bagi saudaranya apa yang dusukai untuk dirinya. (HR. Ahmad)
    Ayat-ayat dan hadist di atas mendasari dari pelaksanaan asuhan keperawatan Islami yang diberikan oleh seorang perawat muslim, ditambah dengan riwayat-riwayat wanita-wanita dizaman Rasulullah dalam melakukan perawatan, maka itulah yang sebenarnya konsep “Caring” dalam keperawatan Islam, bukan hanya asuhan kemanusiaan dengan lemah lembut berdasarkan standar dan etika profesi, tetapi caring yang didasari keimanan pada Allah dengan menjankan perintahNya melalui ayat-ayat Alqur’an dengan tujuan akhir mendapatkan ridho Allah swt.
    Asuhan Keperawatan Islami yang dikembangkan oleh Kelompok kerja Keperawatan Islam adalah pada tataran nilai-nilai yang Insyaa Allah akan dapat menjadi acuan pelaksanaan/Implementasi asuhan keperawatan pada tatanan pelayanan kesehatan. Asuhan keperawatan Islami dapat dilihat sebagai suatu sistem yang terdiri dari masukan, proses dan keluaran yang seluruhnya dapat digali dari nilai-nilai Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan Hadist.
    Masukan (input)
    Dalam asuhan keperawatan masukan adalah segala sumber-sumber yang mendukung terjadinya proses asuhan keperawatan Islami. (1) Al-Qur’an dan Hadist sebagai keyakinan manusia yang beriman (2) Manusia dalam Paradigma keperawatan di jelaskan sebagai hamba dan sebagai khalifah; sebagai memimpin dan mengatur bumi ,memakmurkan bumi, menyebarkan keadilan dan kemaslahatan. Klien sebagai mahluk yang berpotensi secara aktif. Manusia juga sebagai mahluk yang mempunyai fitrah apakah sebagai perawat ataupunklien sebagaimana Allah berfirman :
    “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui “(Q.S. Ar ruum : 30).
    (2) Lingkunganeksternal dan Internal serta lingkungan spiritual. Tatanan pelayanan kesehatan juga termasuk lingkungan yang harus disiapkan untuk pelaksanaan asuhan keperawatan Islami. (3) Profesi Keperawatan yang merupakan manifestasi dari ibadah dan media da’wah amar ma’ruf nahi munkar.
    Proses pelaksanaan Asuhan Keperawatan Islami
    a. Ihsan dalam beribadah
    Bagi perawat muslim pemahaman dan pengamala terhadap rukun iman dan Islam belumlah cukup dikatagorikan dalam insan yang sempurna dalam pengamalan agamanya, jika belum menerapkan rukun iman dan islam tersebut didasari oleh perbuatan yang ikhsan.
    Jika rukun iman kita ibaratkan sebagai pondasi dan rukun islam sebagai bangunannya, maka ikhsanul amal merupakan atapnya. Dalam sebuah bangunan yang utuh, atap berfungsi sebagai pelindung bangunan dari panas dan hujan yang menjaga agar bangunan tersebut tetap lestari, takl retak, dan berlumut karena panas dan hujan. Konsekuensi Ikhsan adalah bahwa perbuatan baik yang berkualitas akan melahirkan dampak berupa keuntungan-keuntungan kepada siapa saja yang melakukannya termasuk bagi perawat dalam melakukan asuhan keperawatan dan bukan keuntungan yang bersifat segera tetapi ada landasan spiritual. Tuntunan ikhsan dalam Al-Qur’an sebagai berikut :
    “Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentunya kami tidak akan menyia-nyiakan pahala bagi orang-orang yang beramal (bekerja) dengan ikhsan”. [QS Al Kahfi:30]
    “Dan jika kamu semua menginginkan (keridhoan) Allah dan Rasul-Nya serta kebahagiaan akherat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa saja diantara kamu yang berbuat ihsan pahala yang besar”. [QS Al Ahzab : 29]
    “Tidak ada balasan bagi ihsan kecuali ihsan juga”. [QS Ar Rohman : 60]
    Ketika Jibril menyamar sebagai manusia :
    “Wahai Muhammad … terangkanlah terangkanlah kepadaku tentang ikhsan!” Jawab Rasul : “Mengabdilah kamu kepada Allah, seakan kamu melihat Dia, jika kamu tidak melihat Dia, Sesungguhnya Dia melihat kamu (HR Imam Muslim)
    Dampak Perbuatan Ikhsan dalam asuhan keperawataN akan melahirkan : (1) Niat yang Ikhlas, bahwa segala sesuatu diniatkan hanyalah kepada Allah semata, sehingga dengan keikhlasan yang bersih hanya kepada Allah akan memberikan barier (benteng) bagi pekerjaan kita agar tetap konsisten dalam garis-garis yang ditetapkan agama dan profesi. (2) Pekerjaan yang Rapih, senantiasa berorientasi kepada kualitas yang tinggi karena merasakan segala sesuatu berada dalam pengawasan Allah SWT. (3) Penyelesaian hasil yang baik, artinya setelah berbuat maksimal atas segala aktivitas, maka secara sunatullah melahirkan pekerjaan yang baik atau memiliki kualitas yang tinggi. Sehingga “ikhsan dalam melaksanakan asuhan keperawatan adalah menentukan mutu pelayanan”.

    Dalam garis besarnya ikhsan ditetapan dalam hubungan dengan (1) Tuhan, sebagaimana dijelaskan pada ayat dan hadits diatas yang dapat diartikan suatu pengakuan atau manifestasi tentang kesyukuran manusia atas nikmat yang telah dilimpahkan Tuhan. (2) Sesama manusia, berbuat baik menurut islam mempunyai lingkup yang luas, tidak terbatas pada satu lingkungan, keturunan, ikatan keluarga, agama,suku, bangsa, sehingga ihsan itu sifatnya humanistis dan universal, ukurannya hanya satu sebagai ummat manusia. (3) Terhadap Mahluk lain selain manusia termasuk pada hewan dan lingkungan harus disayangi oleh manusia.
    b. Perlakuan/perilaku dalam asuhan
    Implementasi asuhan keperawatan selanjutnya adalah bagaimana penjabaran konsep “Caring” yang mendasari keperawatan Islam “Mummarid” yang telah diberikan contoh oleh Rasul dan sahabatnya adalah hubungan antar manusia ners-klien yang didasari keimanan dan ihsan, seorang perawat muslim dalam memberikan asuhan keperawatan Islami tentu harus berlandaskan pada keilmuannya, islam mementingkan professionalisme berpengetahuan dan keterampilan seperti Allah jelaskan pada :
    “Amat besar kebencian disisi Allah-kamu, memperkatakan sesuatu yang kamu tidak melakukannya”.[QS Ash-Shaff:3]
    “Maka bertanyalah kepada ahlinya bila kalian tidak mengetahuinya”.[QS An-Nahl:43]
    “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang tidak kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya : pendengaran, penglihatan, akal budi semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya”. [QS Al Israa : 36]
    “…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang berilmu beberapa derajad….”[QS Al-Mujadillah ; 11]
    “Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya”. [HR Bukhari]
    Disamping dalam pelaksanaan asuhan keperawatan islam perawat harus bersikap Professional, dalam Islam adalah berahlaqul qarimah, sesuai tuntunan Rasul
    “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu….” [QS Al-Ahzab :21]
    “Yang sebaik-baik manusia adalah yang paling baik ahlaknya [HR Thabrani]
    Bebarapa contoh ahlak yang harus dimiliki seorang perawat muslim : Tulus Ikhlas, Ramah dan bermuka manis, Penyantun, Tenang, hati-hati dan tidak tergopoh-gopoh, sabar dan tidak lekas marah, bersih lahir batin, cermat dan teliti, memegang teguh rahasia, memiliki disiplin dan etos kerja yang tinggi. Dengan modal hal diatas seorang perawat dapat mencapai tujuan dari asuhan keperawatan yang diberikannya.
    Perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan tidak bisa bekerja sendiri tetapi memerlukan orang lain, apakah itu satu tim ataupun tim lain hal ini didasarkan pada konsep manusia dalam paradigma keperawatan islam ia adalah sebagai An-Nas (mahluk sosial) dan juga kerjasama dan kemitraan adalah perintah Allah (Q.S. Al-Maa-idah: 2), (QS Al Hujarat : 10).
    c. Bimbingan/Tausiah
    Manusia adalah mahluk mulia, Dengan kemuliaannya harus berbuat yang mula pula. Salah satu perbuatan mulia adalah mengikuti tujuan mengapa manusia diciptakan, tidak lain adalah mengabdi dan menyembah kepada Allah [QS Adz Dzariat: 56], kemuliaan lain adalah menegakkan agama Allah, perintah Allah dalam hal ini adalah seperti firmanNya:
    “…Hendaklah ada segolongan diantara kamu yang menyuruh pada kebajikan dan mencegah yang munkar..” [QS Ali Imtan :104]
    “Katakanlah, ini jalanku, aku dan pengikutku dengan sadar mendakwahkan kamu menuju Allah..”[QS Yusuf :108]
    “Sampaikanlah apa-apa yang datang dariku meskipun hanya satu ayat (hadist)
    Banyak lagi ayat-ayat yang menyeru kita untuk berdakwah, dalam konteks keperawatan islam maka perawat selain melakukan pekerjaan professionalnya maka perawat juga sebagai Da’I untuk dapat mengajak manusia (klien) dan lingkungannya menuju jalan Allah sehingga nilai spiritual yang terintegrasi dalam asuhan keperawatan akan dapat menyentu fitah manusia dan pada akhirnya mencapai tujuan hidup baik perawat ataupun klien.
    Keluaran (Output)
    Output yang daiharapkan dalam pelaksanaan asuhan keperawatan Islami adalah Qualitas asuhan, refleksi dari qualitas bagi semua (perawat dan Klien) adalah kepuasan
    Seorang muslim akan merasa puas bila asuhan yang diterimanya dapat menyentuh fitrah manusia. Ftrah manusia dalam Alqur’an :
    Sebagai Mahluk Mulia
    “Sesungguhnya kami telah menjadikan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. [QS At Tiin :4]
    “Dan sesungguhnya Kami telah memuliakan anak-anak adam, kami angkut mereka didaratan dan lautan. Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan mahluk yang telah Kami ciptakan [QS Al Israa:70]
    Asuhan keperawatan harus dapat menempatkan klien pada fitrah kemuliaannya, tidak ada satu manusiapun yang mau diposisikan lebih rendah dari kemulian manusia, oleh karena itu nilai humanisme yang diterima klien sangatlah berarti bagi pencapaian kesehatan yang sempurna seperti dijelaskan sebelumnya.
    Sebagai mahluk Pengabdi
    “Tidaklah Kujadikan jin dan manusia melainkan untuk mengabdi kepadaKu [Adz Dzariat :56]
    Sebagai hamba Allah maka manusia mempunyai hak untuk menyerahkan seluruh hidup dan matinya hanya untuk Allah, keluaran ini menjadi fokus dari asuhan keperawatan islami sehingga klien dapat beribadah dengan baik untuk menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah.
    Sebagai mahluk yang Hanif
    Fitrah manusia selalu untuk hanif (selalu ingin dalam kebaikan, lurus) terkadang tidak disadari oleh manusia bahwa hal tersebut adalah fitrahnya, sejahat-jahatnya manusia pasti mempunyai hanif sehingga fitrah ini harus dapat disentuh dalam pelaksanaan asuhan keperawatan syukur bila perawat dapat menyadarkan akan pentingnya fitrah hanif dalam hidup ini. Ayat-allah tentang hanif dapat disimak pada [QS Ar Ruum : 30], [QS An ‘aam :161], [QS Al Baqarah :135], [QS Ali Imran : 65], [QS An Nisaa: 125], [QS Yunus : 105].
    Sebagai Mahluk yang merdeka
    Allah menciptakan manusia ke muka bumi ini untuk menjadi khalifah yang memimpin, mengatur dan menyebarkan keadilan bagi sekitarnya. Tidak hanya itu Allah juga memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih jalan hidupnya, dan menjadikan manusia itu bebas berbuat sesuai dengan keinginannya apakah itu kebaikan atau kejahatan, hanya Allah telah menggariskan imbalan dari setiap tindakan manusia dimuka bumi. Allah berfirman.
    “Dan katakanlah : “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barang siapa yang ingin beriman hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin kafir biarlah ia kafir” Sesungguhnya kami telah sediakan bagi orang-orang Zalim di neraka.”[QS Al Kahfi : 29]
    Ayat itu Allah menjelaskan bahwa kebebasan memilih dan memutuskan sesuatu tentang diri manusia adalah adalah manusia itu sendiri sehingga fitra manusia disini adalah mempunyai kemerdekaan. Aspek penting dalam keperawatan Islam untuk dapat menghargai potensi klien untuk mencapai kebaikan dari dirinya sendiri, tetapi perawat juga dapat mengajak atau memberikan bimbingan kepada klien apabila keputusannya itu adalah tidak sesuai dengan Ajaran Islam maka Kemerdekaan menjadi orang yang beriman adalah menjadi sasaran asuhan keperawatan Islami.
    Mahluk dengan nilai Individual dan sekaligus mahluk dengan nilai-nilai komunal
    Allah berfirman :
    “Hai Manusia, bertaqwalah kepada kamu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan dari padanya Allah menciptakan Isterinya dan daripada keduanya memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan mempergunakan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. [QS An Nisaa : 1]
    Dalam Ayat lain [QS Al Baqarah : 213] dan ditegaskan lagi [QS Yunus : 10] menunjukkan bahwa fitrah dalam diri manusia kadang-kadang selalu individual sehingga ada batas-batas yang tidak bisa diketahui orang lain, tidak membutuhkan orang lain, tetapi dilain waktu manusia sebagai mahluk sosial pasti tergantung pada orang lain dan lingkungan dan minta peltolongan. Asuhan keperawatan Islami harus dapat menyentuh fitrah ini pada saat yang tepat klien dalam situasi ingin sendiri (individual) dan saat membutuhkan orang laindan lingkungan sesuai dengan tuntunan Alqur’an.
    Refleksi dari kepuasan akan fitrah manusia itu sebagai klien akan dalam ikhtiarnya untuk mencapai kesehatan dan kesejahteraan yang hakiki adalah bila klien sembuh maka akan timbul rasa Syukur (tasyakur), bila ada ketidak sempurnaan dalam kondisinya klien akan merasa Ridho, dan apabila dalam upaya ikhtiarnya tidak mendapatkan kemajuan bahkan lebih buruk maka ia tidak akan merasa kecewa dan marah tetapi sabar dan Tawaqal kepada Allah berserah diri pada apapun keputusan Allah dengan tetap dalam iman.
    Pada akhirnya Outcome dari asuhan keperawatan Islam adalah untuk mencapai Ridho Allah “Mardhotillah” baik itu bagi klien maupun perawat sebagai sasaran akhir dari hidup manusia dimuka bumi ini.


    KHATIMAH


    Hai orang-orang yang beriman masuklah kamu kedalam islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan, sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu[QS [QS Al Baqarah : 208]
    Islam mengandung ajaran yang mencakup semua aspek hidup dan kehidupan manusia termasuk didalammnya ajaran yang berkaitan dengan kesehatan jasmani, rohani, sosial, kultural dan spiritual. Pengamalan ajaran Islam dalam bidang kesehatan wajib dilaksanakan oleh umat sebagai perwujudan ibadahnya kepada Allah SWT dan sesama umat manusia, diantaranya melalui pelayanan/asuhan keperawatan sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan.
    Keperawatan sebagai bentuk layanan yang ditujukan bagi klien (individu, keluarga, kelompok atau masyarakat) dilandasi oleh suatu keyakinan yang dibangun berdasarkan pandangannya yang kokoh yakni paradigma keperawatan meliputi manusia-kemanusiaan, lingkungan, sehat-kesehatan dan keperawatan, yang kemudian disebut sebagai Paradigma Keperawatan Islam..
    Asuhan keperawatan Islam adalah Integrasi nilai-nilai Islam yang bersumber pada Alqur’an dan Hadits, merupakan suatu sistem sehingga banyak faktor-faktor yang berpengaruh untuk keberhasilan asuhan sehingga mempengaruhi tujuan akhir dari pemberian asuhan keperawatan Islam. Dalam pelaksanaan Asuhan Keperawatan Islam selain perawat melaksanakan profesi keperawqatan yang merupakan manifestasi dari Ibadahnya maka asuhan perawtan Islam mempunyai nilai spiritual yang sangat tinggi karena merupakan sarana da’wah amar ma’ruf nahi munkar.
    Kepuasan terhadap asuhan keperawatan dalam pandangan keperawatan islam adalah dimana fitrah manusia dapat disentuh oleh asuhan keperawaatan yang diberikan sehingga merefleksikan rasa Syukur, ridho, sabar dan tawaqal terhadap pencapaian keberhasilan ikhtiar manusia. Apabila klien dan perawat sudah bisa merasakan itu maka akan dicapai tujuan hidup didunia ini adalah Mardhatillah.
    Asuhan keperawaatan Islam dalam tataran nilai-nilai ini perlu dikembangkan pada konsep-konsep yang dapat menjadi acuan operasional perawat muslim sehingga semakin cepat dan semakin banyak kaum muslimin akan mendapatkan pelayanan sesuai dengan keyakinan dan keimanannya yang pula merupakan fitrah manusia.
    Upaya-upaya mengembangkan asuhan keperawatan Islami secara terus menerus dan simultan menjadi tanggung jawab muslim sebagai manifestasi dari hamba Allah (pengabdi) dalam menegakkan agama Allah, pengembangan tersebut secara komprehensif dan terintegrasi dan sistematis bersumber pada Alqur’an dan Hadits yang merupakan warisan Rasulullah kepada ummatnya.

    Artikel Keperawatan : Cara dan Upaya Dalam Menghadapi Depresi pada Pasien Kanker

    Bagaimanakah sebenarnya harapan Pasien kanker yang mencari kesembuhan ke dokter? Diagnosis kanker  sering dianggap vonis kematian oleh pasien. Kondisi emosi yang terburuk yang selalu ditemui pada pasien penyakit kanker adalah perasaan takut. Hal ini sangat beralasan dan sepenuhnya gampang dimengerti. Tingkat ketakutan yang terjadi sangat tinggi dan melebihi seluruh jenis penyakit yang ada. Mengapa demikian? Pasien yang divonis mengidap kanker dihadapkan bukan hanya atas kemungkinan hidup yang kecil, namun juga penderitaan fisik dan psikis yang berkepanjangan..
    Pada umumnya pasien kanker merasa dekat  dengan kematian, maka kondisi ini menimbulkan tekanan fikiran lanjutan  atau stress  bahkan depresi bagi pasien . Ada 5 macam fase reaksi manusia bila ia dihadapkan dengan kematian. Fase pertama adalah Penyangkalan . Umumnya orang ini akan berkata “Saya baik-baik saja koq. Ini diagnosa yang salah.” Sikap ini biasanya temporer saja. Fase kedua, orang ini akan Marah, dan berkata “Mengapa saya?” Fase ketiga, bersikap Menawar. “Saya rela mati, tetapi kalau boleh berikan saya waktu sedikit...” Fase keempat, Depresi. Orang ini akan menyendiri, tidak berkomunikasi, tidak merasakan cinta maupun perhatian yang diberikan orang di sekelilingnya. Pada saat ini tidak ada gunanya menghibur pasien ini. Ia perlu berdamai dengan dirinya sendiri. Fase terakhir adalah Menerima, di mana pasien akan berkata “Baiklah, saya akan hadapi dengan sebaik-baiknya.” Fase-fase di atas tadi tidak selalu secara teratur dilalui, dapat saja dilampaui dengan cepat dari fase 1 ke 4 misalnya, tergantung dari kondisi psikis pasien.
    Pengamatan dilakukan terhadap sejumlah pasien kanker payudara yang telah melalui proses mastektomi untuk melihat perkembangan mereka. Pengamatan menunjukkan bahwa ada 4 kategori kondisi para pasien yaitu pasien yang berjuang untuk kesembuhan, pasien yang “menyangkal” bahwa kondisinya buruk, pasien yang “pasrah” akan keadaan kesehatannya, dan terakhir adalah pasien yang tidak lagi berharap sembuh. Dalam waktu 5-10 tahun kemudian survey menunjukkan bahwa 80% dari golongan pertama yaitu yang berjuang untuk kesembuhannya benar benar  sembuh dan hanya 20% dari group terakhir yang tidak berharap sembuh menjadi sembuh.

    Penelitian lainnya juga menunjukkan fenomena yang sangat menarik: 15-20% pasien kanker secara sadar atau tidak sadar berharap untuk mati, 60-70% dari mereka berharap untuk sembuh tetapi hanya pasif dan berharap agar para dokter saja yang bekerja menyembuhkannya. Sisanya 15-20% pasien adalah pasien pasien  yang tidak ingin menjadi korban penyakit ini, yang secara aktif terus menerus mencari cara penyembuhan yang mungkin, tidak selalu menuruti saran para dokter, ingin mengontrol dirinya sendiri, rajin bertanya. Pasien pasien yang tidak kooperatif dan susah diatur, pada umumnya memiliki kemungkinan sembuh yang tinggi. Mereka ini memiliki system kekebalan tubuh yang tinggi akibat dari sikapnya tadi.


    Seperti yang pernah dikatakan oleh ahli filosofi Plato, “Tidak ada gunanya mengobati badan tanpa mengobati fikirannya”. Pemikiran ini sangat mengena terutama pada para pasien penyakit berat, termasuk didalamnya pasien kanker. Badan yang sakit akan mempengaruhi fikiran dan sebaliknya juga demikian. Badan yang sehat juga akan berpengaruh menyehatkan fikiran dan demikian juga sebaliknya.

    Ilmu pengetahuan juga membuktikan bahwa kondisi emosional seseorang akan mempengaruhi tingkat kekebalan tubuh manusia. Orang yang berada pada tingkat emosional yang rapuh akan lebih cepat tertularkan penyakit, karena tingkat kekebalan tubuhnya menurun akibat kondisi emosi yang buruk tadi. Kondisi emosi yang positif, penuh pengharapan, akan meningkatkan daya tahan tubuh kita, sedangkan sikap negatif, takut, dan pasrah, akan menurunkan daya kekebalan tubuh.

    Perubahan kondisi emosi ini akan diteruskan didalam rangkaian proses biokimia di dalam badan kita. Hal yang sebaliknya juga terjadi, di mana perbaikan sel-sel ditubuh kita akan juga dapat memperbaiki tingkat emosional dan fikiran kita. Dengan pemahaman diatas, pengobatan yang menyeluruh adalah merupakan cara penyembuhan yang perlu diupayakan, di mana keduanya diperbaiki dalam waktu yang bersamaan.

    Untuk itu pemahaman akan kondisi psikis yang terjadi bagi penderita penyakit berat ini perlu diketahui, bukan saja oleh para penderita, tetapi juga bagi keluarga, orang disekelilingnya dan tim kesehatan  atau orang yang turut membantu penyembuhan pasien ini.

    BAGAIMANA CARA MENGHADAPI HAL INI?

    Fakta bahwa sebagian besar kanker dapat disembuhkan baik dengan operasi, khemoterapi, radioterapi, terapi hormonal maupun terapi target spesifik perlu diketahui pasien. Pada saat yang sama juga diharapkan pasien dapat memperbaiki kondisi fisiknya dengan mengkonsumsi nutrisi yang baik dan maksimal, mengkonsumsi bahan bahan  atau obat penyembuh dan sebaliknya sudah menghindari sumber atau potensi penyakit yang diidapnya berupa lingkungan yang tidak sehat, nutrisi yang toxic dsb, sehingga proses penyembuhan terjadi secara parallel antara fisik dan psikis.
    Depresi yang cukup parah juga dapat  terjadi pada kurang lebih 25% pasien kanker, menimbulkan penderitaan yang lebih berat, memperlemah fungsi organ-organ tubuh, dan pada gilirannya mengacaukan jadwal pengobatan.

    Yang perlu dilakukan adalah mencermati kalau-kalau muncul gejala depresi seperti yang tercantum di bawah. Jika memang ada dan tidak hilang dalam waktu dua minggu, bicarakanlah dengan dokter yang merawat Anda. Dokter akan memberikan obat antidepresan, konseling, terkadang juga terapi lain.
    Gejala Yang Harus Dicermati:
    • Perasaan sedih dan kosong sepanjang hari.
    • Kehilangan minat/kegembiraan melakukan hal-hal yang pernah disenangi.
    • Gangguan pola makan (kehilangan selera atau justru makan berlebihan), atau perubahan berat badan yang cukup mencolok.
    • Gangguan pola tidur (sulit tidur, mudah terbangun, atau tidur berlebihan).
    • Tampak kuyu dan gerak-geriknya semakin lamban.
    • Perasaan letih dan lemah setiap hari.
    • Perasaan bersalah, tak berharga, dan tak berdaya.
    • Kesulitan berkonsentrasi, mengingat sesuatu, atau mengambil keputusan.
    • Pemikiran ke arah kematian atau bunuh diri.
    • Perubahan mood yang ekstrim, dari depresi menjadi kemarahan atau sangat bersemangat.
    Saran untuk Pasien :
    • Membicarakan perasaan-perasaan atau ketakutan-ketakutan yang ada. Merasa sedih atau frustrasi itu normal kok.
    • Saling mendengarkan dengan sungguh-sungguh, dan memutuskan bersama apa yang bisa dilakukan untuk saling meringankan.
    • Mendorong, tetapi bukan memaksa, untuk saling bersikap terbuka.
    • Mencari bantuan melalui konseling atau support group.
    • Berdoa, bermeditasi, atau melakukan upaya spiritual lain.
    • Melakukan relaksasi beberapa kali sehari. Pejamkan mata, tarik nafas dalam-dalam, pusatkan perhatian pada bagian-bagian tubuh, lemaskan mulai dari ujung kaki sampai ujung kepala. Bayangkan  berada di tempat yang sangat menyenangkan dan sangat kita  sukai.
    • Membicarakannya dengan dokter yang merawat Anda, psikolog, psikiater, atau penasehat spiritual.
    Saran  Untuk Pendamping:
    • Mengajak penderita mengungkapkan perasaan-perasaan maupun apa yang dipikirkannya, tetapi jangan memaksa.
    • Dengarkan pembicaraannya baik-baik. Boleh saja memberikan komentar atau menyatakan pendapat lain, tetapi jangan menghakimi.
    • Hindari menyuruhnya secara langsung untuk “bergembira” saat ia sedang merasa tertekan atau sangat sedih.
    • Putuskan bersama apa yang bisa dilakukan untuk membuat situasinya lebih baik.
    • Jangan mengajaknya beradu argumen jika ketakutan, kegelisahan, atau depresinya cukup parah. Lebih baik ajaklah ke dokter atau berikan bantuan lain.
    • Libatkan pasien  dalam aktivitas sehari-hari yang bisa dinikmatinya.
    • Jika pasien  minum obat antidepresan, doronglah ia terus meminumnya sampai kondisinya membaik, biasanya perlu waktu 2-4 minggu, atau bantulah mencari alternatif pengobatan lain jika kondisinya tidak kunjung membaik.
    • Pendamping juga bisa mengalami depresi. Jadi semua saran di atas berlaku juga untuk pendamping atau keluarga.
    Keyakinan pasien yang kuat untuk sembuh, terapi  medis, gizi yang baik, dukungan keluarga dan tentu saja keyakinan agama serta dukungan  dari tim kesehatan yang merawatnya akan memperkuat daya tahan tubuh pasien untuk mencapai kesembuhan.
     (Diambil dari beberapa sumber,Ina )

    Judul Artikel Kesehatan : KOMUNIKASI DALAM PERSPEKTIF CUSTOMER SERVICE di RUMAH SAKIT

    Di bagian awal ingin menampilkan beberapa “ ungkapan “  yang dapat meningkatkan apresiasi kita terhadap customer,..........................
    Pelanggan Adalah Pohon Harta Yang Selalu Akan Menghasilkan Buah Kekayaan Buat Perusahaan. Perusahaan Yang Cerdas Akan Menjaga Kebahagiaan Pelanggan Dengan Pelayanan Yang Penuh Rendah Hati.” – Djajendra
    Pelanggan adalah raja................
    Anda tidak pernah diberi masalah tanpa ada hikmahnya, kita diberi hikmah dengan menghadapi orang –( Richard Bach, Illusions )
    “Orang yang kecewa punya sedikit kesabaran “
    “Satu-satunya cara terbaik untuk mengatasi munculnya pertengkaran adalah dengan menghindarinya.“  ( Dale Carnegie )
    “ Anda tidak pernah mendapat kesempatan kedua untuk memberikan kesan pertama “
    “ Setiap orang yang mampu memberikan kasih tidak akan pernah hancur, terasing, selalu bebas, netral dan berkembang “ (Jhon Roger )
    Intinya adalah customer itu sangat penting dan harus selalu dipuaskan terlepas bahwa customer itu sendiri bisa saja  pada posisi yang salah, karena pada dasarnya customer ( baca pasien ) adalah orang yang bermasalah dan dengan masalahnya datang kepada kita untuk mendapatkan pelayanan yang dibutuhkan.. dan dengan sejuta permasalahan customer bisa menjadikan dua hal yaitu kemunduran atau kemajuan rumah sakit.    Perlu  dilihat kembali bahwa setiap organisasi seperti juga rumah sakit mempunyai tujuan untuk tumbuh dan berkembang. Bukan hanya passive survive tapi juga ekspansi secara terus menerus. Pada perspektif ini customer menjadi  target oriented. Pokoknya everything for customer....!
    Seperti falsafah RS Islam Jakarta Cempaka Putih yang juga kita yakini dalam  melaksanakan pelayanan, Inilah falsafah pelayanan prima, “ Pengembangan sistem pelayanan perlu dimulai dengan inisiatif, kreatifitas, dan tanggungjawab untuk menciptakan dinamika kehidupan yang lebih baik lagi bagi para pelanggan.”
    Tentunya banyak hal yang harus kita managedan tindakan adalah sesuai peran dan tanggung jawab masing masing. Ada yang struktural dan ada pula yang fungsional.
    Salah satu yang penting dalam aspek pelayanan sehari hari adalah komunikasi kepada customer internal maupun eksternal. Kadang-kadang kita lebih fokus mementingkan komunikasi kepada customer eksternal seperti pasien dan keluarganya, padahal komunikasi kepada siapa pun sama pentingnya. Bisa dikatakan petugas rumah sakit yang puas terhadap komunikasi efektif  sesama petugas akan menularkan perilaku berkomunikasi yang baik kepada pasien atau keluarganya.
    Mari kita lihat kata kata yang sehari-hari keluar dari ucapan kita kepada customer internal maupun eksternal, yang sepertinya kita anggap lumrah, namun sebenarnya kata-kata ini menimbulkan persepsi yang “kurang pas“ dan perlu kita gunakan bahasa pelancar komunikasi  seperti di bawah ini ...
    1. “ Bapak/ Ibu harus mengisi formulir ini ....”(hindari memberi perintah, tidak ditujukan kepada orang tertentu, lebih baik katakan : Ada beberapa formulir yang perlu dilengkapi, “ Maukah bapak/ibu ....” ,atau “sangat baik jika bapak/ibu mengisi formulir ini secara lengkap” .)
    2. “ Anda harus membayar “ ( lebih baik, “ tarifnya adalah…” ).
    3. “Anda salah, anda membingungkan saya.” . ( lebih baik gunakan kata saya, bukan anda, seperti ”saya rasa ada kesalahan, saya bingung “ )
    4. ” Saya tidak bisa, itu bukan tugassaya “  ( lebih baik ambil tanggung jawab, katakan “ saya tidak punya wewenang, namun saya akan menghubunginya “ )
    5. ”Anda selalu terlambat, anda tidak pernah atau“ Sering kali hal ini tidak dilakukan dengan benar, pembayaran ini sering kali terlambat ( Selalu dan tidak pernah terkesan mencela dan tidak kenal kompromi karena itu gunakanlah sering kali sebagai gantinya)
    6.  “ Anda rajin tetapi sering telat “  (Orang tidak memperhatikan apa yang anda katakana sebelum “ tetapi” mereka berkonsentrasi pada kata kata setelahnya. Sebaiknya gunakan ‘dan’ sebagai pengganti tetapi, maka mereka akan mendengarkan seluruh kalimat)
    7. “ Apa masalah Bapak?” (Orang tidak ingin mempunyai masalah, dan tidak ingin orang lain mengetahui masalahnya. Lebih baik “Tolong ceritakan kepada saya apa yang telah terjadi? Atau “ bagaimana perasaan Bapak ?”)
    Dan respon terbaik kita dalam menanggapi komunikasi pasien terhadap kita adalah, seperti contoh di bawah ini.
    1. “ Saya ingin termasuk dalam daftar alamat pelanggan utama” (respon kita : Dengan senang hati saya akan menambahkan nama Ibu pada daftar tersebut. Daftar ini diperuntukkan bagi pelanggan yang memenuhi kualifikasiya itu membayar Rp…  jangan katakan  “ Bapak harus bayar sekian untuk jadi member “)
    2. “ Mengapa saya belum menerima pengembalian pembayarannya? ( respon kita “ Maaf  atas penundaan tersebut, tampaknya formulir tidak dilengkapi dengan benar, saya akan membantu memperbaikinya...... hal ini jika terjadi karena ada form yang belum diisi lengkap, jangan kita katakan “ karena Bapak belum mengisi formulir dengan benar “ )
    3.“ Bagaimana saya bisabertemu dengan BuTina ? ( respon kita, Maaf Bu Tina tidak ada di tempat beliau sedang tugas luar,  Bapak bias menghubunginya selama jam kerja, yaitu senin sampai jumat, biar nanti saya teruskan padanya bahwa  Bapak Andi menghubunginya )
    4.” Saya menerima pembayaran kembali Rp 25.000 padahal seharusnya Rp 50. 000” (respon  kita “Maaf telah membuat Ibu bingung, saya akan lihat catatannya sehingga kita bias sama-sama tahu‘’)
    5.“ Mengapa saya harus memberikan kartu identitas saya ? saya sudah menjadi pelanggan di sini bertahun-tahun“, (respon kita “Kami minta identitas untuk perlindungan, Saya tidak ingin keliru memberikan hak Bapak pada orang lain “ ...pelanggan tidak mau mendengar itu kebijakan, sebaiknya jelaskan bagaimana kebijakan itu bermanfaat bagi pelanggan )
    7.”Saya tahu bagaimana perasaan anda“ (respon kita, lebihbaik : saya bias mengerti mengapa ibu Ani merasa demikian“ )
    8. “ Wah anda benar-benar marah “(respon kita,lebih baik: saya mengerti bagaimana Bapak Amir bias jengkel)
    Kita juga bisa menggunakan tehnik komunikasi terapeutik kepada teman sejawat, seperti situasi di bawah ini :
    Kantor  sangat berantakan. Teman sekerja  meletakkan buku dan berkas sembarangan, buku-buku sering berserakan di meja dan  sangat jarang dirapikan.  Anda merasa tidak nyaman dan merasa malu kalau ada tamu yang ke kantor anda.
    Bagaimana anda seharusnya melakukan konfrontasi ( pada saat yang tepat dan sudah ada trust) terhadap teman anda? .... seperti ini :

    “ibu telah meletakkan berkas  di atas meja dan  buku-buku berserakan juga  di meja ”. (clarify)
    “Saya merasa tidak nyaman dikarenakan ruangan kita jadi berantakan tidak karuan” (Articulate)
    “Saya lebih suka Ibu  menyimpan barang barang  di tempatnya  secara rapi ” (Request)
    “Dengan jalan itu  ruangan ini akan tampak bersih  dan nyaman sehingga ibu dan kita semua  jadi betah dan tidak malu bila ada tamu (Encourage). Saya yakin ibu bisa membuat meja lebih rapi ( encourage )
    Bahasa pelancar komunikasi di atas sebaiknya  kita gunakan untuk memberikan kenyamanan dan kepuasan  kepada orang lain.  Ada juga kebiasaan mendengarkan yang buruk yang harus kita hilangkan menurut  R. Lyman K. Steil, seperti di bawah ini :
    1. Mencela pembicara dan cara penyampaiannya
    2. Hanya mendengarkan dan bukan pada yang dirasa
    3. Tidak mencatat atau mencoba menulis segala sesuatu
    4. Perhatian semua
    5. Mentolerir atau menciptakan  gangguan
    6. Menghilangkan kesulitan dan informasi yang membingungkan
    7. Membiarkan kata kata emosional menghalangi pesan yang ingin disampaikan
    8. Menyela atau menyelesaikan kalimat orang lain
    9. Bias  dan prasangka
    10. Tidak menatap orang yang kecewa
    11. Tidak memeriksa kembali apa yang sudah anda pahami
    Kenyataannya, bukan saja customer yang bisa kecewa,  kita pun sebagai petugas bisa kecewa akibat ulah customer,,..karena kita masih manusia. (mirip syairnya lagu vokalis Candil ... ), nah untuk itulah kita perlu memahami hakekat kesabaran. Mari kita renungkan surat surat Alquran tentang kesabaran di bawah ini.
    Dan Allah Ta’ala berfirman:
    إِنَّمَايُوَفَّىالصَّابِرُونَأَجْرَهُمْبِغَيْرِحِسَابٍ
    “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Az-Zumar:10)
    Dan Allah Ta’ala berfirman:
    وَلَمَنْصَبَرَوَغَفَرَإِنَّذَلِكَلَمِنْعَزْمِالأُمُورِ
    “Tetapi orang yang bersabar dan mema`afkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (Asy-Syuuraa:43)
    يَاأَيُّهَاالَّذِينَءَامَنُوااسْتَعِينُوابِالصَّبْرِوَالصَّلاَةِإِنَّاللَّهَمَعَالصَّابِرِينَ
    “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah:153)
    وَلَنَبْلُوَنَّكُمْحَتَّىنَعْلَمَالْمُجَاهِدِينَمِنْكُمْوَالصَّابِرِينَ
    “Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kalian agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar diantara kalian.” (Muhammad:31)
    Selain   bersikap sabar, beberapa hal yang bisa kita lakukan adalah ....
    • Beristirahatlah jika merasa kecewa, bebaskan sejenak diri anda dari situasi tsb. Ini merupakan kesempatan bagian dan untuk menenangkan diri sebelum kembali kepersoalan semula
    • Ketika menyadari anda mulaiemosi, mintalah maaf dengan sopan:
         - maaf saya tingga ldulu  sekitar 10 menit untuk mengecek hal ini
         - saya perlu mendiskusikan bagaimana sebaiknya memecahkan masalah ini

    • Jika emosi anda tak bias dikendalikan, anda tidak bias menjadi professional sebagaimana yang  anda inginkan
    • Jika anda takbisa menahan air mata, mintalah permisi, dan pergilah keruangan kosong untuk menenang kan diri. Mintalah rekan lain atau pimpinan anda untuk mengambil alih
    • Jika pelanggan kasar dan tidak member kesan pada anda untuk menjelaskan atau menjawab pertanyaan, sebutlah namanya di awal kalimat
    • Kendalikan pelanggan yang keras kepala,bila anda kesulitan dalam mendapatkan kata sepakat, buatlah komentar yang mengarahkan pelanggan kearah tercapainya penyelesaian seperti :
    -       Anda ingin saya melakukan apas ekarang ?
    -       Menurut anda cara apa yang adil untuk menyelesaikan masalah ini ?
    -       Apa yang bias membuat andas enang ?
    Gunakanpengulangan yang sopan
    • Jika pelanggan terus mendesak akan sesuatu yang tidak masuk akal atau tidak mungkin, katakana padanya apa yang bias anda lakukan( bukan apa yang tidak bias anda lakukan ). Ulangi terus pernyataan tersebut, tanpa membuatnya menjadi permusuhan atau keributan, sampai akhirnya ia mendengarkan.
    Kalimat kalimat  di atas bisa menjadi referensi dalam  memberikan kenyamanan  dan kepuasan  customer atau pelanggan terhadap komunikasi serta memberi apresiasi nilai pelanggan yang sebernarnya.
    Rumah sakit  yang baik akan menyambungkan hatinya secara mendalam ke hati para pelanggannya. Mereka akan menyatu dalam satu perasaan dan satu persepsi dengan para pelanggannya. Mereka akan selalu mengembangkan dirinya secara bijaksana untuk memberikan segala kebaikan kepada pelanggannya. Mereka akan selalu belajar dari keluh kesah pelanggannya untuk menciptakan hal-hal terbaik buat pelanggan.
    Rumah sakit yang baik tidak akan merasa sempurna dan sombong dengan pelayanan mereka, tapi selalu menunduk dengan penuh hormat untuk mendengarkan kritik dan saran dari para pelanggannya. Pelayanan rendah hati akan meningkatkan rasa hormat rumah sakit kepada pelanggan dan perlu fokus pada sisi-sisi kemanusian pelanggan, dengan cara memberikan semua harapan pelanggan sesuai janji-janjinya kepada customer atau pelanggan internal maupun eksternal.
    Semoga kita semua diberi kekuatan untuk mewujudkan rumah sakit melayani customer sesuai  dengan perspektif customer...............................................Amien (  Ina )